BELAKANG PADANG KOTA BATAM DISINI BANYAK ORANG MELAYU DAN JAWA 🎥 LiveLeak | Channify

Add More Videos To your Channel

SEJARAH PULAU BELAKANG PADANG, DARI BAJAK LAUT MALAKA SAMPAI JADI PENAWAR RINDU Pada kunjungan saya ke Pulau Belakang Padang HARI INI (bisa dibaca disini), saya sangat penasaran dengan sejarah pulau kecil ini. Kenapa kok dinamakan Belakang Padang? apakah ada hubungannya dengan Suku Minang dan Kota Padang? dan kenapa juga ada julukan 'Pulau Penawar Rindu'? Tidak banyak literatur sejarah yang menyinggung secara langsung mengenai asal-usul pulau Belakang Padang, sebuah pulau kecil di utara Pulau Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura. Sumber sejarah kebanyakan berasal dari cerita turun temurun dan mitos masyarakat setempat. Penduduk pulau Belakang Padang ini sangat heterogen. Sebagian besar merupakan pendatang dari berbagai daerah di Indonesia yang didominasi oleh Suku Melayu, Jawa, dan Tionghoa yang tersebar pada lima kelurahan. Kelurahan tersebut adalah Kelurahan Sekanak Raya, Kelurahan Tanjung Sari, Kelurahan Pulau Terong, Kelurahan Pemping, Kelurahan Kasu, dan Kelurahan Pecong. Belakang Padang Dulu Merupakan Pusatnya Pulau Batam Untuk mengetahui sejarah pulau Belakang Padang, ada baiknya juga harus mengetahui sejarah Pulau Batam terlebih dahulu. Pulau Batam dulunya bernama 'Pulau Batang', merupakan pulau kecil yang hanya dihuni oleh nelayan pada bagian pesisirnya. Nelayan-nelayan ini merupakan orang melayu yang pada masa itu lebih dikenal dengan sebutan 'Orang Selat' atau orang laut. Orang selat ini selain berada di Pulau Batam juga tersebar di beberapa pulau lain seperti Pulau Bulan, Pulau Bintan, sampai ke pulau-pulau kecil disekitarnya. Diperkirakan merekalah suku asli Batam yang ber ras melayu. Orang selat ini menghuni pulau-pulau di Selat Malaka, termasuk Batam pertama kali pada 231 M. Dua Puluh lima tahun yang lalu, nama Bajak Laut Belakang Padang menjadi ancaman yang menakutkan bagi kapal-kapal yang melintas di selat Philip dan selat Singapura setiap harinya. Sepanjang tahun 1991 berbagai kasus perompakan yang terjadi di wilayah perairan Polda Riau, tercatat 185 kali. Kemudian pada tahun 1992 sampai bulan Mei tercatat 63 kasus. Berbagai media massa asing memuat berita-berita kasus perompakan ini, dan itu tentu makin menimbulkan citra buruk bagi Singapura dan Indonesia. Lokasi Belakang Padang yang berada di dekat selat Singapura, selat Philip dan selat Malaka besar kemungkinan juga pernah menjadi sarang bajak laut sejak jaman dahulu. Menurut catatan sejarah , sejak dulu selat Malaka telah menjadi jalur perdagangan yang ramai. Ramainya selat ini sebagai jalur perdagangan membuatnya menjadi rawan akan perompakan bajak laut karena kebanyakan kapal yang berlayar melewati selat Malaka membawa barang-barang dagang yang nilainya tidak sedikit. LEBIH DAN KURANGX KETERENGAN INI SAYA MINTA MAAF YAAA, SALAM OBY SAPUTRA69

More from Channel LiveLeak...