Watch Cerita Pertambangan Emas di Kulonprogo in New Channel | Channify
c-uQv6fVUWjdTFPAt8 3861288 VCiSGZ3WcS4Add More Videos To your Channel
KULONPROGO, TRIBUN - Palu besi dan betel adalah beberapa senjata Seno untuk mencari rupiah. Bermodalkan kedua piranti tersebut, Seno terlihat begitu cakap memecah bebatuan di sebuah bukit di Dusun Plampang II, Desa Kalirejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo. Batu-batu yang berhasil dipecah berwujud bongkahan itu kemudian dia pungut. "Ini contoh batu yang uratnya bagus. Urat yang bagus biasanya di dalamnya ada emas," kata Suseno, salah satu penambang emas di Dusun Plampang II sembari menunjukkan bongkahan batu pada Tribun Jogja, Rabu (14/3) tengah hari. Terowongan dengan panjang dan berkedalaman ratusan meter berdiameter ukuran orang dewasa merupakan lahan Seno dalam mendulang rupiah. Gelap, berair dan tak ada cahaya sedikit pun adalah beberapa gambaran lorong yang biasa dimasuki Seno. Kendati demikian, selama satu tahun ini Suseno menghentikan aktifitas penambangannya. Sebab, belum dikantonginya legalitas membuat Suseno takut untuk melanjutkan aktifitas menambangnya. Alhasil, Tribun Jogja sedikit kesulitan menemui dan melihat lebih dekat aktifitas penambangan emas di lokasi tersebut. Pada pertemuan kemarin, Seno membagikan kisah getir dan nelangsanya menekuni profesi sebagai penambang emas. Seno yang hanya tamatan Sekolah Dasar (SD) ini sejatinya tak punya keinginan menjadi penambang. Namun, kerasnya hidup mau tak mau membawanya terjun ke dunia pertambangan. "Karena tidak ada pekerjaan lain selain menambang emas," tandasnya. "Nambang itu nggak enak, kalau enak sudah banyak yang menjadi penambang. Nggak enaknya, pertama ; pakai biaya besar, kedua ; hasilnya tidak pasti," jelas bapak empat putra ini. Namun demikian penyesalan tak terlihat sama sekali di wajah Seno. Sebaliknya, harapan untuk meraih penghidupan yang lebih baik dari menambang itu ada dan terpatri di dada Seno. Dari cerita Seno, perkenalan dia dengan dunia tambang itu bermula sekira lima belas tahun silam, saat dia dipertemukan dengan seorang mahasiswa penambangan. Waktu itu, mahasiswa tersebut tengah mengadakan penelitian di sungai-sungai kecil yang mengalir di tengah Desa Plampang II. Dari hasil penelitian mengindikasikan bahwa daerah tersebut terdapat kandungan emas. Mulanya mereka menyusuri sungai-sungai untuk menentukan lokasi bebatuan yang mengandung urat emas. Berbekal pengetahuan dari intensitas Seno bergaul dengan mahasiswa tersebut, sedikit demi sedikit Seno mendapat ilmu tentang dunia pertambangan. Ditambah Seno yang pernah ikut menambang bersama rekan hingga luar pulau semakin mempertebal ilmunya tentang dunia pertambangan. Semula Seno yang hanya menyusur sungai mencari batuan yang mengandung emas, kemudian berpindah ke pekarangan rumah tetangga dan keluarga Seno. Dari situ Seno semakin yakin potensi emas yang cukup besar tersimpan di bawah tanah Desa Plampang II. Bermodalkan keyakinan itu, Seno bersama rekan-rekan kemudian menggalang dana untuk mengadakan penambangan. Waktu itu dana yang terkumpul berkisar di angka Rp 60 juta. Dana itu dipakai untuk membeli piranti penunjang penambangan dan akomodasi rekan-rekan Seno. Penambangan pertama kali dilakukan oleh 33 personil yang terbagi dalam empat kelompok. Penambangan pertama, tak satu pun dari mereka yang menemukan bebatuan mengandung emas. Hari demi hari aktifitas penambangan terus saja berlangsung. Hingga sampai bulan ke-18 bebatuan mengandung emas itu belum juga ditemui. Keputus asaan pernah menghinggapi. Namun, Seno dan rekan waktu itu tetap optimis. Hingga akhirnya, pencarian selama berbulan-bulan itu membawa hasil yang teramat manis. Meski tak bisa menyebutkan berapa banyak hasil yang dia kumpulkan, namun Seno mengakui hasil itu sudah cukup untuk menghidupi keluarganya. "Hasil dari menambang itu satu minggu sekali dikumpulkan, diolah, setelahnya dijual ke pengepul di Purworejo dan Yogyakarta," kata Seno. "Cukup untuk ngempani anak-istri," jawab Seno lugas.